Perbedaan Penetapan Idul Adha 1431 H
KANTOR JURUBICARA
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Nomor: 188/PU/E/11/10
Jakarta, 02 Dzulhijjah 1431 H/08 November 2010 M
PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Perbedaan Penetapan Idul Adha 1431 H
Sebagaimana telah diberitakan, Pemerintah RI melalui Departemen Agama telah menetapkan bahwa Idul Adha 1431 H tahun ini jatuh pada hari Rabu, 17 November 2010. Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, mestinya jatuh sehari sebelumnya, yakni 16 November 2010.
Sementara Mahkamah Agung Kerajaan Arab Saudi berdasarkan hasil ru’yah telah mengumumkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh bertepatan dengan tanggal 7 November 2010, maka Wukuf atau Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada 15 November 2010. Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Selasa, 16 November 2010, bukan hari Rabu, 17 November 2010 seperti ketetapan Pemerintah RI.
Berkenaan dengan hal di atas, , Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:
1. Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di Tanah Suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»
Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya.”).
Juga sabda beliau:
«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»
Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).
Maka mestinya, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Apalagi Nabi Muhammad juga telah menegaskan hal itu. Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa Amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:
«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ e أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»
Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).
Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada Amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan ibadah haji dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada Amir Makkah. Berdasarkan ketentuan ru’yat global, yang dengan kemajuan teknologi informasi dewasa ini tidak sulit dilakukan, maka Amir Makkah berdasar informasi dari berbagai wilayah Islam dapat menentukan awal Dzulhijjah, Hari Arafah dan Idul Adha setiap tahunnya dengan akurat. Dengan cara seperti itu, kesatuan umat Islam, khususnya dalam ibadah haji dapat diwujudkan, dan kenyataan yang memalukan seperti sekarang ini dapat dihindari.
2. Menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia agar kembali kepada ketentuan syariah, baik dalam melakukan puasa Arafah maupun Idul Adha 1431 H, dengan merujuk pada ketentuan ru’yat untuk wuquf di Arafah, sebagaimana ketentuan hadits di atas.
3. Menyerukan kepada umat Islam di Indonesia khususnya untuk menarik pelajaran dari peristiwa ini, bahwa demikianlah keadaan umat bila tidak bersatu. Umat akan terus berpecah belah dalam berbagai hal, termasuk dalam perkara ibadah. Bila keadaan ini terus berlangsung, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu mewujudkan kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah? Karena itu, perpecahan ini harus dihentikan. Caranya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, dengan segala daya dan upaya masing-masing, untuk berjuang bagi tegaknya kembali Khilafah Islam. Karena hanya khalifah saja yang bisa menyatukan umat. Untuk perjuangan ini, kita dituntut untuk rela berkorban, sebagaimana pelajaran dari peristiwa besar yang selalu diingatkan kepada kita, yaitu kesediaan Nabi Ibrahim as. memenuhi perintah Allah mengorbankan putranya, Ismail as. Keduanya, dengan penuh tawakal menunaikan perintah Allah SWT itu, meski untuk itu mereka harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai. Allah berfirman:
]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ[
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian demi sesuatu yang dapat memberikan kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).
Wassalam,
Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismailyusanto@gmail.com
"Aku bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah " ... Belajar... Bekerja... Berwirausaha... hanya karena Allah SWT semata (Tekad..impian...dan kewajiban manusia selaku hamba Allah)... Blog: Catatan ,ocehan, keluhan, pendapat, sebuah perjalanan hidup...
Senin, 15 November 2010
Minggu, 15 Agustus 2010
Doa berbuka Puasa Lafadz Rasululluah SAW
Ada bermacam-macam doa berbuka puasa, diantaranya sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: اَللّـٰهُمَّ لَكَ صُمْـنَا وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. الدرقطنى ٢:١٨٥، رقم ٢٦ ضعيف لان في اسناده عبد الملك بن هارون بن عنتره
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, “Allaahumma laka shumnaa wa ‘alaa rizqika afthornaa fataqobbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim” (Ya Allah, untuk-MU kami berpuasa, dan atas reizqi-MU kami berbuka, maka terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). [HR Daruquthni juz 2, hal 185 no 26, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّى اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. الطبرانى فى الكبير ١٢:١١٣،رقم ١٢٧٢٨، فيه عبد الملك بن هارون بن عنترة وهو ضعيف
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a “Laka shumtu wa’alaa rizqika afthortu fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (Untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizqi-Mu aku berbuka, maka terimalah ibadahku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) [HR Thabrani dalam Al-Kabir juz 12 hal 113 no. 12720, dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah, ia dlaif.
بِسْمِ اللهِ، اللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ . الطبرانى فى الاوسط رقم ٧٥٤٧، وفيه داود بن زبرقان وهو ضعيف
Bismillah, Allaahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Dengan nama Allah. Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizqi-Mu aku berbuka). [HR Thabrani, dalam Al-Ausath hadits no. 7547, dalam sanadnya ada perawi bernama Dawud bin Zabraqan, dan ia dlaif – Majma’uz Zawaaid juz 3 hal 279]
عَنْ مُعَاذٍرص قَلَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَعَانَنِى فَصُمْتُ وُرَزَقَنِى فَاَفْطَرْتُ. ابن السنى ص ١٦٩، رقم ٤٧٩، اسناده ضعيف لان فيه رجل لم يسم
Dari Mu’adz RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, “Alhamdu lillahil-ladzii a’aananii fa shumtu wa rozaqonii fa-afthortu (Segala puji bagi Allah yang telah menolongku, sehingga aku berpuasa dan telah memberi rizqi kepadaku, maka aku berbuka)”. [HR Ibnu Sunni hal. 169, no. 479, sanadnya dlaif , karena didalamnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya].
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ اَنَّهُ بَلَغَهُ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِ ذَااَفْطَرَقَالَ: للَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ . ابو داود ٢:ص ٣٠٦ , رقم ٢٣٥٨ مرسـل لان معاذبن زهرة م يدرك النبى ص
Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, ”Allohumma laka shumtu wa’alaa rizqika afthortu )Ya, Allah, untuk-mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka puasa(” [HR. Abu Dawud juz 2, hal 306, no 2358, hadist tersebut mursal, karena Mu’adz bin Zuhrah tidak bertemu Nabi SAW]
عَنِ ابْنِ اَبِى مُلَيْكَةَ يَقُوْلُ:سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِوبْنِ اْلعَـاصِ يَقُوْلُ:سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ:اِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَ عْوَةٌ مَاتُرَدُّ،قَالَ ابْنُ اَبِى مُلَيْكَةَ: سَمِعْتُ عَبْدَاللهِ بْنَ عَمْرٍويَقُوْلُ اِذَااَفْطَرَ: اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَلِى.ابن ماجه ١:٥٥٧،رقم١٧٥٣حسن
Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : Saya mendengar ‘Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash berkata :Aku mendengar Rasullulah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu ketika berbuka ada doa yang tidak akan di tolak”. Ibnu Abi Mulaikah berkata : Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr apabila berbuka puasa berdo’a, “Allaahumma innii as-aluka birohmatikal-latii wasi’at kulla syai-in an taghfiro lii (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rohmat-Mu yang luas meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku)” [HR Ibnu Majah juz I, hal 557, no. 1753, hadits hasan]
عَنْ مَرْوَانَ يَعْنِى ابْنِ سَالِمِ الْمُقَفَّعِ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَازَادَعَلَى اْلكَفِّ وَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهَ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلاَجْرُاِنْ شَاءَ اللهُ. ابو داود ٢:٣٦، رقم ٢٣٥٧، حسن
Dari Marwan, yakni bin Salim al-Muqaffa’i, ia berkata : Aku melihat Ibnu ‘Umar r.a. memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih dari genggaman tangannya. Ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, “Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insya-allah (Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapat, insya Allah) [HR Abu Dawud juz 2 hal 306 no. 2357, hadits hasan]
Keterangan:
Dari riwayat-riwayat di atas bisa kita ketahui bahwa yang derajatnya hasan adalah riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abi Mulaikah dan riwayat Abu Dawud dari Marwan bin Salim. Namun pada riwayat Ibnu Abi Mulaikah di atas, doa tersebut adalah lafadhnya Ibnu ‘Amr. Adapun pada riwayat Abu Dawud tersebut lafads doa itu dari Nabi SAW. Dengan demikian kita ketahui bahwa do’a berbuka puasa yang paling kuat riwayatnya adalah yang diriwayatkan Abu Dawud dari Marwan bin Salim dari Ibnu ‘Umar.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: اَللّـٰهُمَّ لَكَ صُمْـنَا وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. الدرقطنى ٢:١٨٥، رقم ٢٦ ضعيف لان في اسناده عبد الملك بن هارون بن عنتره
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, “Allaahumma laka shumnaa wa ‘alaa rizqika afthornaa fataqobbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim” (Ya Allah, untuk-MU kami berpuasa, dan atas reizqi-MU kami berbuka, maka terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). [HR Daruquthni juz 2, hal 185 no 26, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّى اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. الطبرانى فى الكبير ١٢:١١٣،رقم ١٢٧٢٨، فيه عبد الملك بن هارون بن عنترة وهو ضعيف
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a “Laka shumtu wa’alaa rizqika afthortu fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (Untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizqi-Mu aku berbuka, maka terimalah ibadahku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) [HR Thabrani dalam Al-Kabir juz 12 hal 113 no. 12720, dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah, ia dlaif.
بِسْمِ اللهِ، اللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ . الطبرانى فى الاوسط رقم ٧٥٤٧، وفيه داود بن زبرقان وهو ضعيف
Bismillah, Allaahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Dengan nama Allah. Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizqi-Mu aku berbuka). [HR Thabrani, dalam Al-Ausath hadits no. 7547, dalam sanadnya ada perawi bernama Dawud bin Zabraqan, dan ia dlaif – Majma’uz Zawaaid juz 3 hal 279]
عَنْ مُعَاذٍرص قَلَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَعَانَنِى فَصُمْتُ وُرَزَقَنِى فَاَفْطَرْتُ. ابن السنى ص ١٦٩، رقم ٤٧٩، اسناده ضعيف لان فيه رجل لم يسم
Dari Mu’adz RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, “Alhamdu lillahil-ladzii a’aananii fa shumtu wa rozaqonii fa-afthortu (Segala puji bagi Allah yang telah menolongku, sehingga aku berpuasa dan telah memberi rizqi kepadaku, maka aku berbuka)”. [HR Ibnu Sunni hal. 169, no. 479, sanadnya dlaif , karena didalamnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya].
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ اَنَّهُ بَلَغَهُ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِ ذَااَفْطَرَقَالَ: للَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ . ابو داود ٢:ص ٣٠٦ , رقم ٢٣٥٨ مرسـل لان معاذبن زهرة م يدرك النبى ص
Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, ”Allohumma laka shumtu wa’alaa rizqika afthortu )Ya, Allah, untuk-mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka puasa(” [HR. Abu Dawud juz 2, hal 306, no 2358, hadist tersebut mursal, karena Mu’adz bin Zuhrah tidak bertemu Nabi SAW]
عَنِ ابْنِ اَبِى مُلَيْكَةَ يَقُوْلُ:سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِوبْنِ اْلعَـاصِ يَقُوْلُ:سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ:اِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَ عْوَةٌ مَاتُرَدُّ،قَالَ ابْنُ اَبِى مُلَيْكَةَ: سَمِعْتُ عَبْدَاللهِ بْنَ عَمْرٍويَقُوْلُ اِذَااَفْطَرَ: اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَلِى.ابن ماجه ١:٥٥٧،رقم١٧٥٣حسن
Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : Saya mendengar ‘Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash berkata :Aku mendengar Rasullulah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu ketika berbuka ada doa yang tidak akan di tolak”. Ibnu Abi Mulaikah berkata : Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr apabila berbuka puasa berdo’a, “Allaahumma innii as-aluka birohmatikal-latii wasi’at kulla syai-in an taghfiro lii (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rohmat-Mu yang luas meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku)” [HR Ibnu Majah juz I, hal 557, no. 1753, hadits hasan]
عَنْ مَرْوَانَ يَعْنِى ابْنِ سَالِمِ الْمُقَفَّعِ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَازَادَعَلَى اْلكَفِّ وَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهَ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلاَجْرُاِنْ شَاءَ اللهُ. ابو داود ٢:٣٦، رقم ٢٣٥٧، حسن
Dari Marwan, yakni bin Salim al-Muqaffa’i, ia berkata : Aku melihat Ibnu ‘Umar r.a. memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih dari genggaman tangannya. Ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, “Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insya-allah (Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapat, insya Allah) [HR Abu Dawud juz 2 hal 306 no. 2357, hadits hasan]
Keterangan:
Dari riwayat-riwayat di atas bisa kita ketahui bahwa yang derajatnya hasan adalah riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abi Mulaikah dan riwayat Abu Dawud dari Marwan bin Salim. Namun pada riwayat Ibnu Abi Mulaikah di atas, doa tersebut adalah lafadhnya Ibnu ‘Amr. Adapun pada riwayat Abu Dawud tersebut lafads doa itu dari Nabi SAW. Dengan demikian kita ketahui bahwa do’a berbuka puasa yang paling kuat riwayatnya adalah yang diriwayatkan Abu Dawud dari Marwan bin Salim dari Ibnu ‘Umar.
Kamis, 22 Juli 2010
Resensi Ensiklopedia Akhlak Muhammad
Judul Buku : Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW
Penulis : Mahmud al-Mishri
Penerbit : Pena Pundi Aksara, 2009
Rahasia sukses Nabi Muhammad saw dalam mendakwahkan Islam adalah senantiasa bersenjatakan budi pekerti mulia. Hal ini diakui oleh banyak pihak—non muslim maupun muslim.
Mahatma Gandi misalnya, tokoh ternama dari India ini dalam sebuah kesempatan berkata, “Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya.”
Dan karena itu, Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936.) menegaskan, “Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini.”
Itulah yang mengusik daya intelektual Mahmud al-Mishri dan kemudian mendorongnya untuk menjabarkan akhlak-akhlak Nabi Muhammad dalam satu buku secara rinci, komprehensif, informative (baca: mudah ditangkap, dipahami dan dipraktikkan). Karena itu pula, setelah seselai ia berani menyebut karyanya dengan judul Mausu’ah min Akhlaqi ar-Rasul (Ensiklopedia Akhlak Rasulullah) dan kemudian dipopulerkan versi terjemahan Indonesianya oleh penerbit Pena Pundi Aksara dengan judul Ensiklopedia Akhlak Muhammad.
Ensiklopedia Tuntunan
Tidak berlebihan bila ia menyebut seperti itu. Walaupun, dalam kacamata penulisan buku modern, buku ini masih menyisakan beberapa syarat ensiklopedia yang harus dipenuhi. Misalnya, penulis tidak menyusun entri-entrinya berdasarkan abjad atau kategori tertentu.
Seperti dimaklumi, kata "ensiklopedia" diambil dari bahasa Yunani; enkyklios paideia yang berarti sebuah lingkaran atau pengajaran yang lengkap.Kemudian, secara definitive, telah lazim dikenal bahwa sebuah ensiklopedi merupakan kumpulan sejumlah tulisan yang berisi penjelasan tentang keseluruhan hal terkait suatu bidang yang tersusun secara sistematis berdasarkan abjad atau kategori tertentu.
Tapi, yang unik, justru gaya ‘baru’nya ini membuat ensiklopedia yang satu ini lebih cair dan mengasyikkan untuk ditelaah. Mahmud menyusun bukunya ini dalam 28 bab dalam 963 hal (versi terjemahan Indonesia dengan ukuran buku jumbo). Lalu, ia menyuguhkan bukunya ini secara tematik dan melengkapi setiap temanya dengan berbagai macam hadis, riwayat, kisah-kisah teladan hingga tuntunan langkah-langkah praktis yang bisa digunakan oleh pembaca sebagai guidance untuk mempraktikkan teladan yang ada.
Bahkan, sebelum masuk pada tema-tema inti, penulis yang bernama pena Abu Ammar ini tak lupa memberikan dasar-dasar pengertian tentang apa definisi akhlak dan jawaban-jawaban lugas yang mencerahkan dari berbagai pertanyaan penting tentang apa itu akhlak.
Di halaman 4 misalnya, penulis mengelaborasi pengertian akhlak sebagaimana berikut: “Al-akhlaq merupakan bentuk plural dari al-khuluq yang digunakan untuk mengistilahkan sebuah karakter atau tabiat dasar penciptaan manusia. Kata ini terdiri atas huruf kha-la-qa yang biasa digunakan orang Arab untuk menghargai sesuatu.” Kemudian, ia menguatkan penjelasannya dengan pernyataan ar-Raghib al-Isfahani yang menyatakan bahwa pada dasarnya, kata al-khalqu, al-khulqu, dan al-khuluqu memiliki makna yang sama. Namun, al-khalqu lebih dikhususkan untuk bentuk yang dapat dilacak panca indera, sedangkan al-khuluqu dikhususkan untuk kekuatan dan tabiat yang bisa ditangkap oleh mati hati.
Dari pengertian dasar-dasar itulah, kemudian penulis secara bertahap mengajak pembaca untuk menelusuri dan meneladani satu per satu akhlak dan sunnah Nabi Muhammad saw dari berbagai sumber yang sahih.
Boleh dibilang, membaca ensiklopedia ini pembaca seolah-olah sedang berada di depan sosok agung Nabi Muhammad saw. Sehingga, mau tau mau pembaca harus tertegun, terkesima dan enggan untuk melepaskan buku ini walau sedetik pun.
Bagi anda yang berminat untuk membelinya dapat menghubungi saya : 081320501120 atau 022-76123133
Penulis : Mahmud al-Mishri
Penerbit : Pena Pundi Aksara, 2009
Rahasia sukses Nabi Muhammad saw dalam mendakwahkan Islam adalah senantiasa bersenjatakan budi pekerti mulia. Hal ini diakui oleh banyak pihak—non muslim maupun muslim.
Mahatma Gandi misalnya, tokoh ternama dari India ini dalam sebuah kesempatan berkata, “Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya.”
Dan karena itu, Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936.) menegaskan, “Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini.”
Itulah yang mengusik daya intelektual Mahmud al-Mishri dan kemudian mendorongnya untuk menjabarkan akhlak-akhlak Nabi Muhammad dalam satu buku secara rinci, komprehensif, informative (baca: mudah ditangkap, dipahami dan dipraktikkan). Karena itu pula, setelah seselai ia berani menyebut karyanya dengan judul Mausu’ah min Akhlaqi ar-Rasul (Ensiklopedia Akhlak Rasulullah) dan kemudian dipopulerkan versi terjemahan Indonesianya oleh penerbit Pena Pundi Aksara dengan judul Ensiklopedia Akhlak Muhammad.
Ensiklopedia Tuntunan
Tidak berlebihan bila ia menyebut seperti itu. Walaupun, dalam kacamata penulisan buku modern, buku ini masih menyisakan beberapa syarat ensiklopedia yang harus dipenuhi. Misalnya, penulis tidak menyusun entri-entrinya berdasarkan abjad atau kategori tertentu.
Seperti dimaklumi, kata "ensiklopedia" diambil dari bahasa Yunani; enkyklios paideia yang berarti sebuah lingkaran atau pengajaran yang lengkap.Kemudian, secara definitive, telah lazim dikenal bahwa sebuah ensiklopedi merupakan kumpulan sejumlah tulisan yang berisi penjelasan tentang keseluruhan hal terkait suatu bidang yang tersusun secara sistematis berdasarkan abjad atau kategori tertentu.
Tapi, yang unik, justru gaya ‘baru’nya ini membuat ensiklopedia yang satu ini lebih cair dan mengasyikkan untuk ditelaah. Mahmud menyusun bukunya ini dalam 28 bab dalam 963 hal (versi terjemahan Indonesia dengan ukuran buku jumbo). Lalu, ia menyuguhkan bukunya ini secara tematik dan melengkapi setiap temanya dengan berbagai macam hadis, riwayat, kisah-kisah teladan hingga tuntunan langkah-langkah praktis yang bisa digunakan oleh pembaca sebagai guidance untuk mempraktikkan teladan yang ada.
Bahkan, sebelum masuk pada tema-tema inti, penulis yang bernama pena Abu Ammar ini tak lupa memberikan dasar-dasar pengertian tentang apa definisi akhlak dan jawaban-jawaban lugas yang mencerahkan dari berbagai pertanyaan penting tentang apa itu akhlak.
Di halaman 4 misalnya, penulis mengelaborasi pengertian akhlak sebagaimana berikut: “Al-akhlaq merupakan bentuk plural dari al-khuluq yang digunakan untuk mengistilahkan sebuah karakter atau tabiat dasar penciptaan manusia. Kata ini terdiri atas huruf kha-la-qa yang biasa digunakan orang Arab untuk menghargai sesuatu.” Kemudian, ia menguatkan penjelasannya dengan pernyataan ar-Raghib al-Isfahani yang menyatakan bahwa pada dasarnya, kata al-khalqu, al-khulqu, dan al-khuluqu memiliki makna yang sama. Namun, al-khalqu lebih dikhususkan untuk bentuk yang dapat dilacak panca indera, sedangkan al-khuluqu dikhususkan untuk kekuatan dan tabiat yang bisa ditangkap oleh mati hati.
Dari pengertian dasar-dasar itulah, kemudian penulis secara bertahap mengajak pembaca untuk menelusuri dan meneladani satu per satu akhlak dan sunnah Nabi Muhammad saw dari berbagai sumber yang sahih.
Boleh dibilang, membaca ensiklopedia ini pembaca seolah-olah sedang berada di depan sosok agung Nabi Muhammad saw. Sehingga, mau tau mau pembaca harus tertegun, terkesima dan enggan untuk melepaskan buku ini walau sedetik pun.
Bagi anda yang berminat untuk membelinya dapat menghubungi saya : 081320501120 atau 022-76123133
Minggu, 20 Juni 2010
Indikator Ketaqwaan
Malam minggu 19 Juni 2010 , seperti biasa di mesjid At-Taqwa , kompleks perumahan Parakan Mas Bandung, diadakan kajian terjemah Qur'an per kata, ustadz pembimbing adalah ustadz dadang Abu Hamzah, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat..
Seperti biasa agendanya adalah :
1. Tilawah
2. Terjemah
3. Kultum dari salah satu peserta
4. Penjelasan dari ayat tilawah dan terjemah diatas.
Pada hari itu peserta yang hadir ternyata lebih sedikit dari biasanya yaitu hanya sepuluh orang..sehingga ayat yang dibahas walaupun cukup panjang tetapi masih bisa diselesaikan dengan baik..
Acara dihentikan ketika adzan Isya dan dilanjutkan kembali pada saat setelahnya. Kultum kali ini yang dibawakan adalah Tanda-tanda taqwa...
Ayat yang dijadikan acuan adalah Surat Ali-Imran ayat 134-135...dalam kultum tersebut di jelaskan bahwa indikator orang yang bertakwa adalah dalam ayat tersebut adalah:
1. memiliki kecerdasan Finansial
2. Memiliki kecerdasan Emosional
3. Memiliki kecerdasan Sosial
4. Memiliki kecerdasan Spiritual
bersambung..kapan-kapan....
Seperti biasa agendanya adalah :
1. Tilawah
2. Terjemah
3. Kultum dari salah satu peserta
4. Penjelasan dari ayat tilawah dan terjemah diatas.
Pada hari itu peserta yang hadir ternyata lebih sedikit dari biasanya yaitu hanya sepuluh orang..sehingga ayat yang dibahas walaupun cukup panjang tetapi masih bisa diselesaikan dengan baik..
Acara dihentikan ketika adzan Isya dan dilanjutkan kembali pada saat setelahnya. Kultum kali ini yang dibawakan adalah Tanda-tanda taqwa...
Ayat yang dijadikan acuan adalah Surat Ali-Imran ayat 134-135...dalam kultum tersebut di jelaskan bahwa indikator orang yang bertakwa adalah dalam ayat tersebut adalah:
1. memiliki kecerdasan Finansial
2. Memiliki kecerdasan Emosional
3. Memiliki kecerdasan Sosial
4. Memiliki kecerdasan Spiritual
bersambung..kapan-kapan....
Selasa, 15 Juni 2010
Urgensi Mengkaji Sirah Nabawiyah
http://www.dakwatuna.com
Urgensi Mengkaji Sirah Nabawiyah
Oleh: Drs. DH Al Yusni
________________________________
dakwatuna.com – Sirah Nabawiyah merupakan seri perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang menjadi parameter hakiki dalam membangun potensi umat. Sehingga, mempelajarinya bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa itu. Melainkan, mengkajinya untuk menarik pelajaran dan menemukan rumusan kesuksesan generasi masa lalu untuk diulang di kehidupan kiwari.
Melalui pemahaman sirah nabawiyah yang tepat, setiap muslim akan mendapatkan gambaran yang utuh dan paripurna tentang hakikat Islam dan terbangun semangatnya untuk merealisasikan nilai-nilai yang didapat dalam kehidupannya saat ini. Apalagi sasaran utama dari kajian sirah adalah mengembalikan semangat juang untuk merebut kembali kejayaan yang pernah dimiliki umat Islam. Secara umum kepentingan kita mengkaji sirah nabawiyah, adalah:
Memahami pribadi Rasulullah saw. sebagai utusan Allah (fahmu syakhshiyah ar-rasul)
Dengan mengkaji sirah kita dapat memahami celah kehidupan Rasulullah saw. sebagai individu maupun sebagai utusan Allah swt. Sehingga, kita tidak keliru mengenal pribadinya sebagaimana kaum orientalis memandang pribadi Nabi Muhammad saw. sebagai pribadi manusia biasa.
“Hai nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Al-Ahzab: 45-47).
Mengetahui contoh teladan terbaik dalam menjalani kehidupan ini (ma’rifatush shurati lil mutsulil a’la)
Contoh teladan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini sebagai patokan atau model ideal. Model hidup tersebut akan mudah kita dapati dalam kajian sirah nabawiyah yang menguraikan kepribadian Rasulullah saw. yang penuh pesona dalam semua sisi. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).
Dapat memahami turunnya ayat-ayat Allah swt. (al-fahmu ‘an-nuzuli aayatillah)
Mengkaji sirah dapat membantu kita untuk memahami kronologis ayat-ayat yang diturunkan Allah swt. Karena, banyak ayat baru dapat kita mengerti maksudnya setelah mengetahui peristiwa-peristiwa yang pernah dialami Rasulullah saw. atau sikap Rasulullah atas sebuah kejadian. Melalui kajian sirah nabawiyah itu kita dapat menyelami maksud dan suasana saat diturunkan suatu ayat.
Memahami metodologi dakwah dan tarbiyah (fahmu uslubid da’wah wat-tarbiyah)
Kajian sirah juga dapat memperkaya pemahaman dan pengetahuan tentang metodologi pembinaan dan dakwah yang sangat berguna bagi para dai. Rasulullah saw. dalam hidupnya telah berhasil mengarahkan manusia memperoleh kejayaan dengan metode yang beragam yang dapat dipakai dalam rumusan dakwah dan tarbiyah.
Mengetahui peradaban umat Islam masa lalu (ma’rifatul hadharatil islamiyatil madliyah)
Sirah nabawiyah juga dapat menambah khazanah tsaqafah Islamiyah tentang peradaban masa lalu kaum muslimin dalam berbagai aspek. Sebagai gambaran konkret dari sejumlah prinsip dasar Islam yang pernah dialami generasi masa lalu. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran: 110).
Menambah keimanan dan komitmen pada ajaran Islam (tazwidul iman wal intima’i lil islam)
Sebagai salah satu ilmu Islam, diharapkan kajian sirah ini dapat menambah kualitas iman. Dengan mempelajari secara intens perjalanan hidup Rasulullah, diharapkan keyakinan dan komitmen akan nilai-nilai islam orang-orang yang mempelajarinya semakin kuat. Bahkan, mereka mau mengikuti jejak dakwah Rasulullah saw.
Yang paling penting dalam memahami sirah nabawiyah adalah upaya untuk merebut kembali model kepemimpinan umat yang hilang. Kepemimpinan yang dapat memberdayakan umat dan untuk kemajuan mereka. Nabi Musa a.s. membangkitkan kaumnya atas kelesuan berbuat bagi kemajuan bangsa dan negerinya. Sehingga beliau mengingatkan kaumnya atas anugerah nikmat yang diberikan Allah swt. pada mereka tentang tiga model kepemimpinan umat yang pernah ada pada sejarah mereka.
Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (Al-Maa-idah: 20).
Jadi, nilai utama yang hendak dibangun kembali dengan kajian sirah nabawiyah adalah semangat berbuat untuk kemajuan bangsa dan umat meraih harga dirinya di hadapan umat-umat yang lain. Lebih dari itu, juga untuk mengembalikan hak kepemimpinan kepada umat Islam, umat nabi pilihan.
Tiga Model Kepemimpinan
Model kepemimpinan umat sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa. Karenanya Islam mengajak umatnya untuk memilikinya kembali agar anugerah nikmat dari Allah swt. dapat berfungsi lagi dan bertambah. Anugerah nikmat tersebut adalah model kepemimpinan umat. Kepemimpinan yang mesti dimiliki umat agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik, adil, sejahtera, dan sentosa. Model kepemimpinan itu ialah:
Kepemimpinan spiritual (zi’amah diiniyah)
Kepemimpinan moral spiritual yang akan memberikan contoh pada umat tentang apa yang perlu diperbuat dan dilakukan pada kehidupan bermasyarakat. Sehingga masyarakat tidak terjerumus pada jurang kehancuran moral yang akan membawa kesengsaraan kehidupan bangsa. Kepemimpinan ini menjadi patokan dalam masyarakat yang dicontohkan langsung oleh pimpinan masyarakat untuk menjadi panutan dalam akhlak, ibadah, kesantunan, kedermawanan, perilaku keluhuran, dan lainnya. Kemudian menyerukan pada masyarakat dengan penuh kesabaran agar dapat mengikuti jejak dan langkah perbuatannya. Serta memberikan kesadaran akan pentingnya moral bagi kehidupan berbangsa. Dengan begitu masyarakat tidak lagi mencontoh perilaku kepribadiannya kepada figur-figur yang keliru.
Kepemimpinan politik (zi’amah siyasiyah)
Kepemimpinan politik yang mengatur birokrasi dan administrasi masyarakat dengan mengedepankan pelayanan dan pengabdian. Bukan sebagai pemeras rakyat dan penyengsara umat. Hal ini akan terjadi bila kepemimpinan struktural dipimpin oleh orang-orang shalih yang punya kredibilitas. Kredibilitas mereka diakui untuk memimpin umat lantaran kemampuannya menjalankan fungsi kepemimpinan dengan benar.
Kepemimpinan intelektual (zi’amah ilmiyah)
Kepemimpinan intelektual dapat mencerdaskan kehidupan umat. Kepemimpinan ini dapat diraih bila semangat intelektual kembali menggeliat. Sehingga, menciptakan kecerdasan umat secara massal. Seluruh elemen masyarakat dapat memahami perkembangan zaman serta dapat mengerti alur kehidupan. Dengan itu tidak ada lagi unsur masyarakat yang menjadi obyek penderita dan terus dibodohi atas kebijakan dan sikap orang lain. Dari sana umat ini akan menjadi sokoguru dunia dalam ilmu pengetahuan. Setiap hari selalu muncul hal-hal baru. Setiap waktu ada penemuan baru
“Bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282).
Oleh karena itu, kajian sirah harus menghantarkan orang-orang yang mempelajarinya kepada bangkitnya semangat juang untuk merebut kembali model kepemimpinan umat. Sehingga, umat dapat merasakan kenikmatan dalam hidup yang penuh anugerah. Kehidupan mereka tidak terzhalimi sedikit pun. Bahkan mereka dapat dengan jelas melihat harapan dan obsesinya ke depan. Wallahu ‘alam bishshawaab.
http://www.dakwatuna.com/2007/urgensi-mengkaji-sirah-nabawiyah/
Urgensi Mengkaji Sirah Nabawiyah
Oleh: Drs. DH Al Yusni
________________________________
dakwatuna.com – Sirah Nabawiyah merupakan seri perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang menjadi parameter hakiki dalam membangun potensi umat. Sehingga, mempelajarinya bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa itu. Melainkan, mengkajinya untuk menarik pelajaran dan menemukan rumusan kesuksesan generasi masa lalu untuk diulang di kehidupan kiwari.
Melalui pemahaman sirah nabawiyah yang tepat, setiap muslim akan mendapatkan gambaran yang utuh dan paripurna tentang hakikat Islam dan terbangun semangatnya untuk merealisasikan nilai-nilai yang didapat dalam kehidupannya saat ini. Apalagi sasaran utama dari kajian sirah adalah mengembalikan semangat juang untuk merebut kembali kejayaan yang pernah dimiliki umat Islam. Secara umum kepentingan kita mengkaji sirah nabawiyah, adalah:
Memahami pribadi Rasulullah saw. sebagai utusan Allah (fahmu syakhshiyah ar-rasul)
Dengan mengkaji sirah kita dapat memahami celah kehidupan Rasulullah saw. sebagai individu maupun sebagai utusan Allah swt. Sehingga, kita tidak keliru mengenal pribadinya sebagaimana kaum orientalis memandang pribadi Nabi Muhammad saw. sebagai pribadi manusia biasa.
“Hai nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Al-Ahzab: 45-47).
Mengetahui contoh teladan terbaik dalam menjalani kehidupan ini (ma’rifatush shurati lil mutsulil a’la)
Contoh teladan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini sebagai patokan atau model ideal. Model hidup tersebut akan mudah kita dapati dalam kajian sirah nabawiyah yang menguraikan kepribadian Rasulullah saw. yang penuh pesona dalam semua sisi. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).
Dapat memahami turunnya ayat-ayat Allah swt. (al-fahmu ‘an-nuzuli aayatillah)
Mengkaji sirah dapat membantu kita untuk memahami kronologis ayat-ayat yang diturunkan Allah swt. Karena, banyak ayat baru dapat kita mengerti maksudnya setelah mengetahui peristiwa-peristiwa yang pernah dialami Rasulullah saw. atau sikap Rasulullah atas sebuah kejadian. Melalui kajian sirah nabawiyah itu kita dapat menyelami maksud dan suasana saat diturunkan suatu ayat.
Memahami metodologi dakwah dan tarbiyah (fahmu uslubid da’wah wat-tarbiyah)
Kajian sirah juga dapat memperkaya pemahaman dan pengetahuan tentang metodologi pembinaan dan dakwah yang sangat berguna bagi para dai. Rasulullah saw. dalam hidupnya telah berhasil mengarahkan manusia memperoleh kejayaan dengan metode yang beragam yang dapat dipakai dalam rumusan dakwah dan tarbiyah.
Mengetahui peradaban umat Islam masa lalu (ma’rifatul hadharatil islamiyatil madliyah)
Sirah nabawiyah juga dapat menambah khazanah tsaqafah Islamiyah tentang peradaban masa lalu kaum muslimin dalam berbagai aspek. Sebagai gambaran konkret dari sejumlah prinsip dasar Islam yang pernah dialami generasi masa lalu. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran: 110).
Menambah keimanan dan komitmen pada ajaran Islam (tazwidul iman wal intima’i lil islam)
Sebagai salah satu ilmu Islam, diharapkan kajian sirah ini dapat menambah kualitas iman. Dengan mempelajari secara intens perjalanan hidup Rasulullah, diharapkan keyakinan dan komitmen akan nilai-nilai islam orang-orang yang mempelajarinya semakin kuat. Bahkan, mereka mau mengikuti jejak dakwah Rasulullah saw.
Yang paling penting dalam memahami sirah nabawiyah adalah upaya untuk merebut kembali model kepemimpinan umat yang hilang. Kepemimpinan yang dapat memberdayakan umat dan untuk kemajuan mereka. Nabi Musa a.s. membangkitkan kaumnya atas kelesuan berbuat bagi kemajuan bangsa dan negerinya. Sehingga beliau mengingatkan kaumnya atas anugerah nikmat yang diberikan Allah swt. pada mereka tentang tiga model kepemimpinan umat yang pernah ada pada sejarah mereka.
Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (Al-Maa-idah: 20).
Jadi, nilai utama yang hendak dibangun kembali dengan kajian sirah nabawiyah adalah semangat berbuat untuk kemajuan bangsa dan umat meraih harga dirinya di hadapan umat-umat yang lain. Lebih dari itu, juga untuk mengembalikan hak kepemimpinan kepada umat Islam, umat nabi pilihan.
Tiga Model Kepemimpinan
Model kepemimpinan umat sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa. Karenanya Islam mengajak umatnya untuk memilikinya kembali agar anugerah nikmat dari Allah swt. dapat berfungsi lagi dan bertambah. Anugerah nikmat tersebut adalah model kepemimpinan umat. Kepemimpinan yang mesti dimiliki umat agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik, adil, sejahtera, dan sentosa. Model kepemimpinan itu ialah:
Kepemimpinan spiritual (zi’amah diiniyah)
Kepemimpinan moral spiritual yang akan memberikan contoh pada umat tentang apa yang perlu diperbuat dan dilakukan pada kehidupan bermasyarakat. Sehingga masyarakat tidak terjerumus pada jurang kehancuran moral yang akan membawa kesengsaraan kehidupan bangsa. Kepemimpinan ini menjadi patokan dalam masyarakat yang dicontohkan langsung oleh pimpinan masyarakat untuk menjadi panutan dalam akhlak, ibadah, kesantunan, kedermawanan, perilaku keluhuran, dan lainnya. Kemudian menyerukan pada masyarakat dengan penuh kesabaran agar dapat mengikuti jejak dan langkah perbuatannya. Serta memberikan kesadaran akan pentingnya moral bagi kehidupan berbangsa. Dengan begitu masyarakat tidak lagi mencontoh perilaku kepribadiannya kepada figur-figur yang keliru.
Kepemimpinan politik (zi’amah siyasiyah)
Kepemimpinan politik yang mengatur birokrasi dan administrasi masyarakat dengan mengedepankan pelayanan dan pengabdian. Bukan sebagai pemeras rakyat dan penyengsara umat. Hal ini akan terjadi bila kepemimpinan struktural dipimpin oleh orang-orang shalih yang punya kredibilitas. Kredibilitas mereka diakui untuk memimpin umat lantaran kemampuannya menjalankan fungsi kepemimpinan dengan benar.
Kepemimpinan intelektual (zi’amah ilmiyah)
Kepemimpinan intelektual dapat mencerdaskan kehidupan umat. Kepemimpinan ini dapat diraih bila semangat intelektual kembali menggeliat. Sehingga, menciptakan kecerdasan umat secara massal. Seluruh elemen masyarakat dapat memahami perkembangan zaman serta dapat mengerti alur kehidupan. Dengan itu tidak ada lagi unsur masyarakat yang menjadi obyek penderita dan terus dibodohi atas kebijakan dan sikap orang lain. Dari sana umat ini akan menjadi sokoguru dunia dalam ilmu pengetahuan. Setiap hari selalu muncul hal-hal baru. Setiap waktu ada penemuan baru
“Bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282).
Oleh karena itu, kajian sirah harus menghantarkan orang-orang yang mempelajarinya kepada bangkitnya semangat juang untuk merebut kembali model kepemimpinan umat. Sehingga, umat dapat merasakan kenikmatan dalam hidup yang penuh anugerah. Kehidupan mereka tidak terzhalimi sedikit pun. Bahkan mereka dapat dengan jelas melihat harapan dan obsesinya ke depan. Wallahu ‘alam bishshawaab.
http://www.dakwatuna.com/2007/urgensi-mengkaji-sirah-nabawiyah/
Rabu, 02 Juni 2010
Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan
Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan
Wednesday, 02 June 2010 18:12
Imam Syafii mengingatkan, “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya.”
Oleh: Nuim Hidayat*
BANGSA Arab hingga pada masa jahiliah, telah mengapresiasi kegiatan tulis-menulis dan urgensinya. Ketika itu, mereka memasukkan kemampuan menulis sebagai salah satu dari tiga syarat utama seseorang disebut minal kamilin (di antara orang-orang yang sempurna). Ibnu Sa’ad menuturkan, “Orang yang sempurna (al-Kamil) menurut mereka pada masa Jahiliah dan permulaan Islam adalah orang yang dikenal mampu menulis Arab, piawai dalam berenang, dan ahli dalam memanah.”
Rasulullah saw telah mendidik sahabat tentang pentingnya ilmu, dunia tulis menulis, dokumentasi dan lain-lain. Prof. Mustafa Azami misalnya, menyebut Rasulullah mempunyai 65 sekretaris (dalam bukunya Kuttabun Nabi, diterjemahkan GIP dengan judul 65 Sekretaris Nabi). Jumlah tersebut merupakan hasil penelitian sumber kitab-kitab yang ternama, dan manuskrip-manuskrip yang belum ditemukan oleh ulama sebelumnya.
Azami menyatakan bahwa saat meneliti dan menulis kitab itu, ia memperoleh naskah fotokopi dari kitab yang sangat bernilai, yaitu kitab al-Intishar lil Qur’an karya al-Baqilani (w. 403 H). Al-Baqilani mengulas para sekretaris Nabi saw. Ia menyebutkan nama-nama sekretaris Nabi yang sebagian besar telah dikenal oleh para penulis yang lain. Tetapi, sebagian lainnya tidak terdapat di kitab-kitab yang lain. Bahkan, ada beberapa nama dalam kitab tersebut yang tidak kami temukan di kitab-kitab yang beredar dan dikenal mengulas biografi sahabat, seperti kitab Thabaqat Ibni Sa’ad, Usudul Ghabah, al-Ishabah, dan kitab-kitab besar lainnya.
Al-Baqilani berkata, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”
Azami menyebutkan, di antara sekretaris Rasulullah saw antara lain: Zaid bin Tsabit yang ditugaskan untuk menulis surat kepada raja-raja, Ali bin Abi Thalib yang bertugas menulis akad-akad perjanjian, al-Mughirah bin Syu’bah yang menulis kebutuhan-kebutuhan Nabi yang bersifat mendadak, Abdullah ibnul Arqam yang betugas mencatat utang-piutang dan akad lainnya di tengah masyarakat, dan lain-lain.
Guru Besar Universitas Ibnu Saud ini menyatakan, salinan naskah dari surat-surat Nabi saw. yang dikirimkan ke berbagai pihak di seantero penjuru itu juga dipelihara keberadaannya oleh beberapa sahabat. Misalnya Ibnu Abbas, Abu Bakar bin Hazm, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar ibnul Khaththab. Abu Bakar memiliki naskah surat Nabi saw. tentang masalah sedekah. Sementara Umar menyimpan semua naskah tentang akad-akad perjanjian dan kesepakatan yang diambil dari para tokoh terkemuka. Salinan atau copy-an dari surat-surat tersebut sangat berguna mengingat wilayah kekuasaan Islam yang luas.
Peradaban Tulisan
Dalam sirah Nabi, dapat dibaca bahwa belum genap satu tahun Rasulullah saw. tinggal di Madinah, beliau langsung menulis piagam yang dikenal dengan “Undang-Undang Negara Modern,” meminjam istilah beberapa peneliti. Piagam tersebut mengatur hubungan antara kaum Muhajirin (Mekah) bersama kaum Anshar (Madinah) di satu pihak, dan kaum Muslimin bersama kaum Yahudi di pihak lain. Menurut Azami, Madinah menjadi sebuah negara bagi kaum Muslimin. Sebuah negara menuntut adanya tata tertib, fasilitas, dan administrasi yang jelas. Sehingga tumbuh diwan-diwan atau kesekretariatan pada masa Nabi saw.
Tentang tradisi tulis menulis ini, akhirnya Prof. Azami menyimpulkan: ”Ketika Islam datang, jumlah para penulis masih dibilang minim (di kalangan kaum Quraisy hanya terdapat 17 orang -pen). Tetapi, berkat strategi pengajaran yang diterapkan Nabi saw., ilmu pun tersebar luas dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, jumlah para sahabat yang menulis untuk Nabi ketika itu mencapai enam puluh orang. Dengan merujuk sumber-sumber yang cukup memadai di tengah-tengah kita sekarang ini, kita dapat menggambar grafik yang luas bagi aktivitas tulis-menulis atau administrasi pada masa Nabi saw.”
Mengutip kembali al-Baqilani, Azami menyatakan, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”
Azami mengkategorikan sekretaris Rasulullah sebagai berikut :
1. Kelompok yang dikenal sebagai sekretaris yang sering menulis, seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’awiyah bin Abu Sufyan ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.
2. Kelompok sahabat yang ditetapkan sebagai sekretaris, tetapi frekuensi menulisnya tidak sama seperti kelompok pertama. Mereka misalnya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Abu Ayyub al-Anshari, dan lain sebagainya, ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.
3. Kelompok sahabat yang nama-namanya tercantum dalam kitab al-Watsa`iqus Siyasiyyah dan kitab-kitab lainnya, tetapi kami tidak menemukan penyebutan nama mereka sebagai sekretaris Nabi saw.. Mereka misalnya Ja’far, al-Abbas, Abdullah bin Abu Bakar ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.
Di antara Sekretaris Nabi dari kalangan Muhajirin, disebutkan: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Arqam, Khalid bin Sa’id, dan lain-lain. Para ahli sejarah menuturkan bahwa Nabi sangat memercayai Khalid, sehingga beliau menyuruhnya untuk mengumpulkan dokumen yang ditulisnya dan surat-surat yang distempelnya. Ia juga sebagai sekretaris Abu Bakar. Sedangkan Umar menugaskannya sebagai pengurus Baitul Maal.
Pada masa permulaan Islam, tempat “berkantor” para sekretaris dinamakan Diwan. Diwan juga dapat diartikan kumpulan lembaran-lembaran dan daftar tulisan yang berisi nama-nama tentara dan para pemberi sedekah. Dari hasil penelitiannya, Azami menyimpulkan ada tiga macam diwan pada masa permulaan Islam, yaitu:
1. Diwanul Insya` (kantor pembuatan surat-surat kenegaraan).
2. Diwanul Jaisy (pusat data personel militer)
3. Diwanul Kharaj/ al-Jibayah (pusat pengelolaan keuangan negara) untuk menginventarisasi pajak yang dikembalikan pada Baitul Maal dan pemberian yang diwajibkan atas setiap muslim.
Mengenai Diwanul Insya`, al-Qalaqsyandi berkata, “Diwan ini (al-Insya`) merupakan diwan yang pertama ada dalam Islam. Diwan ini telah digunakan pada masa Nabi saw.”
Pusat administrasi—dalam formatnya yang sederhana—telah dipergunakan pada masa Nabi saw. Tatkala roda pemerintahan dipegang oleh Sayyidina Umar r.a. dan Daulah Islam telah meluas, maka pengembangan sistem administrasi adalah suatu hal yang sangat penting. Umar r.a. telah menginstruksikan untuk membuat pusat administrasi (diwan) dengan format yang lebih menyeluruh dari format diwan sebelumnya.
Sebagai bukti, Diwanul Insya`(kantor pembuatan surat-surat kenegaraan)—sebagaimana dinyatakan al-Qalaqsyandi—adalah diwan yang pertama kali dibuat dalam Islam. Penggunaannya telah dimulai pada masa Nabi saw.
Berkaitan dengan Diwanul Jaisy (pusat data personel militer), sebuah keterangan dalam Shahih al-Bukhari dijelaskan, “…dari Hudzaifah r.a., ia berkata, ‘Nabi saw. bersabda, ‘Tulislah bagiku orang yang mengucapkan (ikrar) Islam.’ Maka kami pun menuliskannya sebanyak 1500 orang.”
Di antara indikator yang menunjukkan salah satu kebiasan mereka dalam mencatat orang-orang yang ditentukan keikutsertaannya dalam peperangan, adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitabnya, Shahih al-Bukhari. “…dari Ibnu Abbas, ia mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Seorang laki-laki sungguh tidak boleh menyendiri bersama seorang perempuan. Dan seorang perempuan sungguh tidak boleh melakukan perjalanan kecuali ada mahram yang ikut bersamanya.’ Maka seorang pria berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah aku dicatat untuk ikut dalam peperangan ini dan itu, sementara istriku keluar demi suatu keperluan...’”
Rasululullah saw juga terbiasa menyuruh para sahabat agar segera menjawab surat-surat yang masuk kepada pemerintahan-Nya. Ibnul Qasim meriwayatkan dari Malik, ia berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah riwayat, bahwa ada sepucuk surat yang sampai kepada Rasulullah saw., ‘Siapa yang mau menjawab surat ini atas namaku?’ Tanya beliau. Abdullah ibnul Arqam menjawab, ‘Saya.’ Ia pun lekas menulis surat jawaban atas nama Nabi. Kemudian ia membawa surat itu ke hadapan beliau (dan membacakannya). Beliau pun kagum dengan isi surat tersebut lalu meluluskannya.”
Tentang pentingnya menulis ini, Imam Syafii mengingatkan: “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh bila Anda memburu seekor kijang, kemudian Anda lepas begitu saja tanpa tali pengikat.”
Kehebatan dalam dunia tulis menulis ini terus berkembang, sehingga generasi sahabat, tabiin, tabiiut tabiin, dan seterusnya berprestasi dalam menjaga keotentikan Al-Qur’an dengan membukukannya, menuliskan Sunnah Rasulullah saw, melahirkan ilmu aj jarh wat ta’dil, ilmu bahasa Arab (sharaf, nahwu dll), ilmu matematika, ilmu fisika, dan lain-lain. Sejarah Islam kemudian mencatat ilmu terus berkembang dan perkembangan buku dalam Islam --apalagi setelah ditemukannya teknologi kertas-- melimpah luar biasa.
Dr Ahmad Amin dalam bukunya yang terkenal “Dhuha Islam“ menyatakan: “Banyak sekali jenis kertas yang terdapat dalam masa pemerintahan kerajaan Abbasiyah, antaranya ialah kertas firaun (mengambil nama orang-orang Firaun di Mesir), kertas sulaimani (mengambil nama Sulaiman bin Rashid, Gubernur Harun al Rashid di Khurasan), kertas jaafari (mengambil nama Jaafar al Barmaky), kertas al talhi (mengambil nama Thalhah bin Hasan). Pada masa tersebut juga terdapat banyak sekali tempat perusahaan kertas, di antaranya ialah di Samarqand, Baghdad, Tihamah, Yaman, Mesir, Damsyik, Tarablus, Humah, Khimath, Mambaj, Maroko, dan juga Andalus. Dalam abad yang kedua Hijrah terdapat perusahaan kertas yang dibuat dari perca-perca kain, kertas jenis ini telah digunakan secara meluas dan dapat menandingi kertas-kertas yang lain.”
Hasil dari wujudnya bahan-bahan kertas serta penulisan ilmu pengetahuan pada masa itu, maka terciptalah buku-buku dan tempat menyimpan buku (perpustakaan). Karena itu, perpustakaan merupakan sumber utama bagi kebudayaan di zaman Abbasiyah.
Ahmad Amin melanjutkan: “Satu perkara yang kita sebutkan di sini bahwa dengan sebab banyaknya kertas yang digunakan sebagai bahan penulisan dan banyaknya buku yang muncul pada masa itu, maka lahirlah pula satu perusahaan yang bernama Wiraqah yaitu perusahaan yang bertugas untuk menyalin, mentashih, serta menjilid buku-buku, dan lain-lain perkara yang berhubung dengan buku. Dengan sebab itu banyak sekali toko Wiraqah dan ia merupakan sumber yang penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, karena pemilik toko-toko ini menyalin buku-buku ilmu pengetahuan, kemudian mereka mentashihnya, setelah itu dijilid lalu dijual kepada pembeli. Dengan demikian buku-buku tersebut tersebar luas di seluruh daerah. Mereka yang ingin mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan pula akan mengunjungi toko-toko ini untuk membaca dan mengkaji buku-buku yang terdapat disini.”
Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul Distorted Imagination menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapaian peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun kuantitas. “Hampir 1000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam,”paparnya. (lihat Republika, 9 September 2008).
Sardar menyatakan bahwa di dunia Islam kali pertama perpustakaan umum berdiri. Peradaban Islam pula yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk meminjam buku. Tak cuma sebatas itu, darul al ilm (perpustakaan) pun menjadi tempat pertemuan dan diskusi. Perpustakaan di era kejayaan Islam juga menjadi sarana pertukaran ilmu antara guru dan murid. Di Baghdad saja saat itu, terdapat sekitar 36 perpustakaan umum, sebelum kota metropolis intelektual itu dihancurkan oleh tentara Mongol.
Penulis adalah peniliti pada INSISTS
Wednesday, 02 June 2010 18:12
Imam Syafii mengingatkan, “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya.”
Oleh: Nuim Hidayat*
BANGSA Arab hingga pada masa jahiliah, telah mengapresiasi kegiatan tulis-menulis dan urgensinya. Ketika itu, mereka memasukkan kemampuan menulis sebagai salah satu dari tiga syarat utama seseorang disebut minal kamilin (di antara orang-orang yang sempurna). Ibnu Sa’ad menuturkan, “Orang yang sempurna (al-Kamil) menurut mereka pada masa Jahiliah dan permulaan Islam adalah orang yang dikenal mampu menulis Arab, piawai dalam berenang, dan ahli dalam memanah.”
Rasulullah saw telah mendidik sahabat tentang pentingnya ilmu, dunia tulis menulis, dokumentasi dan lain-lain. Prof. Mustafa Azami misalnya, menyebut Rasulullah mempunyai 65 sekretaris (dalam bukunya Kuttabun Nabi, diterjemahkan GIP dengan judul 65 Sekretaris Nabi). Jumlah tersebut merupakan hasil penelitian sumber kitab-kitab yang ternama, dan manuskrip-manuskrip yang belum ditemukan oleh ulama sebelumnya.
Azami menyatakan bahwa saat meneliti dan menulis kitab itu, ia memperoleh naskah fotokopi dari kitab yang sangat bernilai, yaitu kitab al-Intishar lil Qur’an karya al-Baqilani (w. 403 H). Al-Baqilani mengulas para sekretaris Nabi saw. Ia menyebutkan nama-nama sekretaris Nabi yang sebagian besar telah dikenal oleh para penulis yang lain. Tetapi, sebagian lainnya tidak terdapat di kitab-kitab yang lain. Bahkan, ada beberapa nama dalam kitab tersebut yang tidak kami temukan di kitab-kitab yang beredar dan dikenal mengulas biografi sahabat, seperti kitab Thabaqat Ibni Sa’ad, Usudul Ghabah, al-Ishabah, dan kitab-kitab besar lainnya.
Al-Baqilani berkata, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”
Azami menyebutkan, di antara sekretaris Rasulullah saw antara lain: Zaid bin Tsabit yang ditugaskan untuk menulis surat kepada raja-raja, Ali bin Abi Thalib yang bertugas menulis akad-akad perjanjian, al-Mughirah bin Syu’bah yang menulis kebutuhan-kebutuhan Nabi yang bersifat mendadak, Abdullah ibnul Arqam yang betugas mencatat utang-piutang dan akad lainnya di tengah masyarakat, dan lain-lain.
Guru Besar Universitas Ibnu Saud ini menyatakan, salinan naskah dari surat-surat Nabi saw. yang dikirimkan ke berbagai pihak di seantero penjuru itu juga dipelihara keberadaannya oleh beberapa sahabat. Misalnya Ibnu Abbas, Abu Bakar bin Hazm, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar ibnul Khaththab. Abu Bakar memiliki naskah surat Nabi saw. tentang masalah sedekah. Sementara Umar menyimpan semua naskah tentang akad-akad perjanjian dan kesepakatan yang diambil dari para tokoh terkemuka. Salinan atau copy-an dari surat-surat tersebut sangat berguna mengingat wilayah kekuasaan Islam yang luas.
Peradaban Tulisan
Dalam sirah Nabi, dapat dibaca bahwa belum genap satu tahun Rasulullah saw. tinggal di Madinah, beliau langsung menulis piagam yang dikenal dengan “Undang-Undang Negara Modern,” meminjam istilah beberapa peneliti. Piagam tersebut mengatur hubungan antara kaum Muhajirin (Mekah) bersama kaum Anshar (Madinah) di satu pihak, dan kaum Muslimin bersama kaum Yahudi di pihak lain. Menurut Azami, Madinah menjadi sebuah negara bagi kaum Muslimin. Sebuah negara menuntut adanya tata tertib, fasilitas, dan administrasi yang jelas. Sehingga tumbuh diwan-diwan atau kesekretariatan pada masa Nabi saw.
Tentang tradisi tulis menulis ini, akhirnya Prof. Azami menyimpulkan: ”Ketika Islam datang, jumlah para penulis masih dibilang minim (di kalangan kaum Quraisy hanya terdapat 17 orang -pen). Tetapi, berkat strategi pengajaran yang diterapkan Nabi saw., ilmu pun tersebar luas dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, jumlah para sahabat yang menulis untuk Nabi ketika itu mencapai enam puluh orang. Dengan merujuk sumber-sumber yang cukup memadai di tengah-tengah kita sekarang ini, kita dapat menggambar grafik yang luas bagi aktivitas tulis-menulis atau administrasi pada masa Nabi saw.”
Mengutip kembali al-Baqilani, Azami menyatakan, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”
Azami mengkategorikan sekretaris Rasulullah sebagai berikut :
1. Kelompok yang dikenal sebagai sekretaris yang sering menulis, seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’awiyah bin Abu Sufyan ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.
2. Kelompok sahabat yang ditetapkan sebagai sekretaris, tetapi frekuensi menulisnya tidak sama seperti kelompok pertama. Mereka misalnya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Abu Ayyub al-Anshari, dan lain sebagainya, ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.
3. Kelompok sahabat yang nama-namanya tercantum dalam kitab al-Watsa`iqus Siyasiyyah dan kitab-kitab lainnya, tetapi kami tidak menemukan penyebutan nama mereka sebagai sekretaris Nabi saw.. Mereka misalnya Ja’far, al-Abbas, Abdullah bin Abu Bakar ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.
Di antara Sekretaris Nabi dari kalangan Muhajirin, disebutkan: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Arqam, Khalid bin Sa’id, dan lain-lain. Para ahli sejarah menuturkan bahwa Nabi sangat memercayai Khalid, sehingga beliau menyuruhnya untuk mengumpulkan dokumen yang ditulisnya dan surat-surat yang distempelnya. Ia juga sebagai sekretaris Abu Bakar. Sedangkan Umar menugaskannya sebagai pengurus Baitul Maal.
Pada masa permulaan Islam, tempat “berkantor” para sekretaris dinamakan Diwan. Diwan juga dapat diartikan kumpulan lembaran-lembaran dan daftar tulisan yang berisi nama-nama tentara dan para pemberi sedekah. Dari hasil penelitiannya, Azami menyimpulkan ada tiga macam diwan pada masa permulaan Islam, yaitu:
1. Diwanul Insya` (kantor pembuatan surat-surat kenegaraan).
2. Diwanul Jaisy (pusat data personel militer)
3. Diwanul Kharaj/ al-Jibayah (pusat pengelolaan keuangan negara) untuk menginventarisasi pajak yang dikembalikan pada Baitul Maal dan pemberian yang diwajibkan atas setiap muslim.
Mengenai Diwanul Insya`, al-Qalaqsyandi berkata, “Diwan ini (al-Insya`) merupakan diwan yang pertama ada dalam Islam. Diwan ini telah digunakan pada masa Nabi saw.”
Pusat administrasi—dalam formatnya yang sederhana—telah dipergunakan pada masa Nabi saw. Tatkala roda pemerintahan dipegang oleh Sayyidina Umar r.a. dan Daulah Islam telah meluas, maka pengembangan sistem administrasi adalah suatu hal yang sangat penting. Umar r.a. telah menginstruksikan untuk membuat pusat administrasi (diwan) dengan format yang lebih menyeluruh dari format diwan sebelumnya.
Sebagai bukti, Diwanul Insya`(kantor pembuatan surat-surat kenegaraan)—sebagaimana dinyatakan al-Qalaqsyandi—adalah diwan yang pertama kali dibuat dalam Islam. Penggunaannya telah dimulai pada masa Nabi saw.
Berkaitan dengan Diwanul Jaisy (pusat data personel militer), sebuah keterangan dalam Shahih al-Bukhari dijelaskan, “…dari Hudzaifah r.a., ia berkata, ‘Nabi saw. bersabda, ‘Tulislah bagiku orang yang mengucapkan (ikrar) Islam.’ Maka kami pun menuliskannya sebanyak 1500 orang.”
Di antara indikator yang menunjukkan salah satu kebiasan mereka dalam mencatat orang-orang yang ditentukan keikutsertaannya dalam peperangan, adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitabnya, Shahih al-Bukhari. “…dari Ibnu Abbas, ia mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Seorang laki-laki sungguh tidak boleh menyendiri bersama seorang perempuan. Dan seorang perempuan sungguh tidak boleh melakukan perjalanan kecuali ada mahram yang ikut bersamanya.’ Maka seorang pria berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah aku dicatat untuk ikut dalam peperangan ini dan itu, sementara istriku keluar demi suatu keperluan...’”
Rasululullah saw juga terbiasa menyuruh para sahabat agar segera menjawab surat-surat yang masuk kepada pemerintahan-Nya. Ibnul Qasim meriwayatkan dari Malik, ia berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah riwayat, bahwa ada sepucuk surat yang sampai kepada Rasulullah saw., ‘Siapa yang mau menjawab surat ini atas namaku?’ Tanya beliau. Abdullah ibnul Arqam menjawab, ‘Saya.’ Ia pun lekas menulis surat jawaban atas nama Nabi. Kemudian ia membawa surat itu ke hadapan beliau (dan membacakannya). Beliau pun kagum dengan isi surat tersebut lalu meluluskannya.”
Tentang pentingnya menulis ini, Imam Syafii mengingatkan: “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh bila Anda memburu seekor kijang, kemudian Anda lepas begitu saja tanpa tali pengikat.”
Kehebatan dalam dunia tulis menulis ini terus berkembang, sehingga generasi sahabat, tabiin, tabiiut tabiin, dan seterusnya berprestasi dalam menjaga keotentikan Al-Qur’an dengan membukukannya, menuliskan Sunnah Rasulullah saw, melahirkan ilmu aj jarh wat ta’dil, ilmu bahasa Arab (sharaf, nahwu dll), ilmu matematika, ilmu fisika, dan lain-lain. Sejarah Islam kemudian mencatat ilmu terus berkembang dan perkembangan buku dalam Islam --apalagi setelah ditemukannya teknologi kertas-- melimpah luar biasa.
Dr Ahmad Amin dalam bukunya yang terkenal “Dhuha Islam“ menyatakan: “Banyak sekali jenis kertas yang terdapat dalam masa pemerintahan kerajaan Abbasiyah, antaranya ialah kertas firaun (mengambil nama orang-orang Firaun di Mesir), kertas sulaimani (mengambil nama Sulaiman bin Rashid, Gubernur Harun al Rashid di Khurasan), kertas jaafari (mengambil nama Jaafar al Barmaky), kertas al talhi (mengambil nama Thalhah bin Hasan). Pada masa tersebut juga terdapat banyak sekali tempat perusahaan kertas, di antaranya ialah di Samarqand, Baghdad, Tihamah, Yaman, Mesir, Damsyik, Tarablus, Humah, Khimath, Mambaj, Maroko, dan juga Andalus. Dalam abad yang kedua Hijrah terdapat perusahaan kertas yang dibuat dari perca-perca kain, kertas jenis ini telah digunakan secara meluas dan dapat menandingi kertas-kertas yang lain.”
Hasil dari wujudnya bahan-bahan kertas serta penulisan ilmu pengetahuan pada masa itu, maka terciptalah buku-buku dan tempat menyimpan buku (perpustakaan). Karena itu, perpustakaan merupakan sumber utama bagi kebudayaan di zaman Abbasiyah.
Ahmad Amin melanjutkan: “Satu perkara yang kita sebutkan di sini bahwa dengan sebab banyaknya kertas yang digunakan sebagai bahan penulisan dan banyaknya buku yang muncul pada masa itu, maka lahirlah pula satu perusahaan yang bernama Wiraqah yaitu perusahaan yang bertugas untuk menyalin, mentashih, serta menjilid buku-buku, dan lain-lain perkara yang berhubung dengan buku. Dengan sebab itu banyak sekali toko Wiraqah dan ia merupakan sumber yang penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, karena pemilik toko-toko ini menyalin buku-buku ilmu pengetahuan, kemudian mereka mentashihnya, setelah itu dijilid lalu dijual kepada pembeli. Dengan demikian buku-buku tersebut tersebar luas di seluruh daerah. Mereka yang ingin mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan pula akan mengunjungi toko-toko ini untuk membaca dan mengkaji buku-buku yang terdapat disini.”
Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul Distorted Imagination menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapaian peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun kuantitas. “Hampir 1000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam,”paparnya. (lihat Republika, 9 September 2008).
Sardar menyatakan bahwa di dunia Islam kali pertama perpustakaan umum berdiri. Peradaban Islam pula yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk meminjam buku. Tak cuma sebatas itu, darul al ilm (perpustakaan) pun menjadi tempat pertemuan dan diskusi. Perpustakaan di era kejayaan Islam juga menjadi sarana pertukaran ilmu antara guru dan murid. Di Baghdad saja saat itu, terdapat sekitar 36 perpustakaan umum, sebelum kota metropolis intelektual itu dihancurkan oleh tentara Mongol.
Penulis adalah peniliti pada INSISTS
Selasa, 18 Mei 2010
Mari Kembali ke Masjid
Mari Kembali ke Masjid
sumber :www.hidayatullah.com
Friday, 13 November 2009 10:23
Di zaman Nabi, masjid memiliki multifungsi. Maka ketika hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi mengatasi problematika sosial
Oleh: Shalih Hasyim*
Hidayatullah.com--Seorang pakar islam kontemporer Syeikh Said Hawa pernah mengatakan; Inna ’ashrana hadza mamlu-un bi Asy Syahawati wa asy-Syubuhati wa Al Ghoflah (Sesungguhnya kurun kita ini diliputi oleh suasana yang mengundang nafsu syahwat, kerancuan terhadap kebenaran dan melalaikan kehidupan akhirat). Menurut beliau, benteng pertahanan terakhir ummat dalam memagari jati dirinya dari kontaminasi polusi zaman adalah keluarga dan masjid.
Kesederhanaan manajeman Nabi dalam mengelola masjid telihat antara lain sewaktu beliau shalat, usai shalat beliau selalu menghadap jamaah untuk mengecek barangkali ada sebagian jamaah yang berhalangan hadir. Pada suatu ketika salah seorang jamaah inti tidak hadir dalam shalat, beliau bertanya , Mana si Fulan ?. Salah seorang makmum menjawab, si Fulan sedang sakit. Kemudian beliau mengunjungi Fulan di rumahnya. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, sangat perhatian kepada jamaahnya. Perbuatan beliau sejatinya diteladani pengurus dan imam masjid.
Selesai shalat Jumat, dari atas mimbar Rasulullah Saw, selalu menanyakan jamaahnya, Siapakah yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan ? Apabila ada yang mengangkat tangannya (sebagai tanda jamaah itu sedang dalam kesulitan atau kekurangan), Nabi memintanya untuk menjelaskan kesulitan yang dihadapinya dan kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah diantara jamaah yang telah hadir diberi keluasan rizki oleh Allah ?”.
Begitulah cara Nabi. Sehingga yang mempunyai kelebihan dapat meringankan beban yang kesulitan. Jika cara ini diterapkan maka problematika kemiskinan ummat setiap minggu akan bisa dipecahkan. Betapa efektif masjid-masjid di tanah air yang jumlahnya ratusan ribu dalam mengantisipasi krisis ummat jika menerapkan manajemen sederhana Rasulullah saw, tersebut. Dan semestinya ummat islam yang merupakan bagian terbesar bangsa ini akan hidup sejahtera dan damai.
Kurang Multi Fungsi
Krisis multidimensional yang terjadi sekarang ini menyebabkan citra Indonesia di dalam negeri dan di mata dunia internasional semakin terpuruk. Bangsa Indonesia yang selama ini dikenal religius, memiliki budaya pemaaf, paternalistik, toleran (tepo sliro, Jawa), gotong royong menjadi kejam dan koruptor. Bangsa Indonesia jika menduduki posisi tertentu cenderung memperkaya diri, berfikir jangka pendek, kata Prof. Toshiko Komoshita, intlektual Jepang. Indonesia adalah sarang penyamun berdasi, lahan subur KKN mulai tingkat pejabat eksekutif pusat hingga jajaran birokrasi tingkat RT (hasil surve lembaga Non Government Organization dari Jerman, diterbitkan lewat majalah der Spiegel).
Stateman pakar asing dan hasil surve intitusi luar negeri yang tidak menguntungkan diatas tentu mengarah kepada ummat islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia. Untuk sementara penulis berkesimpulan, bahwa keterpurukan ummat disebabkan oleh beberapa point berikut;
Pertama : Ada kecenderungan ummat Islam tidak mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah secara murni dan konsekuen. Mereka sering tidak melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan penting. Baik menyangkut persoalan individu, keluarga dan masyarakat (QS. Thaha : 124).
Mengomentari ayat ini Ibnu Katsir berkata; “Barangsiapa yang berpaling dari ketetapan Allah dan atau sengaja melupakannya, akan menemui kehidupan yang serba sulit (ma’isyatan dhonkan), tidak merasakan ketenangan dan kelapangan dada disebabkan kesesatannya, sekalipun secara lahiriyah sejahtera, bisa berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuka hatinya. Tetapi jiwanya goncang, bingung dan diliputi keragu-raguan.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 479).
Kedua; Ummat Islam meyakini bahwa Rasulullah Saw sebagai figur sentral terbaik, tetapi mereka meneladaninya (ta-assi) hanya dalam mulut dan tidak diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari di tempat kerja, kantor, sekolah, pasar atau di tempat yang lain. Sekalipun secara serimonial, dan upacara peringatan maulid ummat islam melakukannya secara serempak dan gegap gempita, tetapi keagungan pribadi (syakhshiyyah) Rasulullah masih belum sepenuhnya di teladani. Kaya dalam upacara, tetapi miskin dalam aplikasi.
Untuk mengantisipasi kondisi diatas, ummat Islam memiliki tanggungjawab moral membantu negara keluar dari hal-hal paradoksal.
Lihatlah jumlah jamaah shalat lima waktu terutama shubuh, belum lagi dengan pakaian yang berwarna-warni, diperparah dengan shaf (barisan shalat) yang tidak rapi. Apalagi jika kita mencermati kualitas komunikasi yang dibangun antara jamaah usai menunaikan shalat, sungguh masih belum berjalan sesuai harapan. Dari sini bisa dievalusi betapa kualitas ummat dalam meneladani Rasulullah Saw ketika di masjid masih jauh ketinggalan.
Pada zaman Nabi Muhammad Saw, masjid memiliki multifungsi. Maka ketika beliau hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga menimba ilmu, tempat mempersaudarkan (ta-akhi) suku yang saling bermusuhan selama berabad-abad, tempat berbagi sesama, penggalian dana dan pendistribusiannya, tempat penggemblengan calon pemimpin (kawah condrodimuko), tempat bermusyawarah dan tempat mewujudkan kesejahteraan bersama.
Oleh karena itu tugas imam shalat tidak sekedar memimpin shalat jamaah, tetapi mendidik, mengayomi dan mengarahkan ummat dalam segala aspek kehidupannya. Maka, seorang imam dan jamaah inti adalah orang yang dapat dipercaya dan terbaik (level inti) dari ummat. Imam masjid dituntut memiliki kemampuan manajerial yang tinggi dan memiliki komitmen untuk mengurbankan tenaga dan waktunya untuk memakmurkan masjid. Dengan standar demikian, dia mampu melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya. (QS. at- Taubah (9) : 17).
Makmurkanlah Masjid-masjid
Memakmurkan masjid berarti membangun, memperkuat bangunannya dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak (secara material), dan memakmurkannya dalam aspek immaterial (moril), mendirikan shalat, berdzikir, mencari ilmu dan aktifitas ibadah lain yang merupakan tujuan utama didirikannya. (QS. an-Nur : 36), (Tafsir al-Ahkam, Ali Ash Shobuni II). Abu Bakar Al Jashshash mengatakan, memakmurkan masjid itu mengandung dua pengertian yaitu : Berkunjung dan berdiam di masjid. Membangun dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak. I’tamaro yang berarti ziarah, berkunjung. Misalnya kata ‘umrah, berarti ziarah ke Baitullah. (Ahkamul Quran, Al Jashshash, II : 87).
“Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya,” [HR. Thabrani].
“Barangsiapa yang mendirikan masjid karena Allah sekalipun sebesar sarang burung, maka Allah akan mendirikan sebuah rumah untuknya di surge.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah].
Secara jujur dan obyektif kita mengakui betapa masjid-masjid di tanah air mengalami kemandekan. Belum memainkan fungsi dan peranannya secara maksimal. Masjid tidak berdaya mengatasi problematika sosial kemasyarakatan. Orang meminta-minta di sekitar masjid, anak-anak jalanan, kenakalan remaja, belum bisa diantisipasi secara signifikan. Betapa keteladanan Rasulullah Saw, di masjid yang mempunyai kandungan manajeman tingkat tinggi, baru sebatas sebagai bahan diskusi, seminar dan forum-forum ilmiah. Salah satu fungsi masjid sebagai baitul mal, belum bisa diwujudkan, sehingga para pengemis di sekitarnya semakin meningkat jumlahnya. Sangat kontradiktif dengan bangunan phisik masjid yang megah, dengan pemandangan manusia yang berpakaian compang camping di sekelilingnya. Keindahan bangunannya tidak diimbangi dengan kesejahteraan dan kemakmuran jamaahnya.
Beberapa ormas Islam pernah mengusung “Gerakan back to masjid”. Hidayatullah beberapa pernah meluncurkan 1.000 dai di seluruh kabupaten dan propinsi di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah dan berbagai elemen bangsa, khususnya ummat Islam. Sebagai usaha mengentaskan krisis multidimensional yang menjerat bangsa. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) juga meluncurkan program dai-dai pasca-sarjana dan doctoral dan mengisi masjid-masjid.
Masjid yang akan ditangani oleh para dai di seluruh tanah air tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah shalat, tetapi sebagai pusat kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, informasi dunia Islam. Dengan demikian memakmurkan masjid memiliki fungsi yang sangat luas.
Pendirian Sekolah Terpadu, TPA/TPQ, perpustakaan multi media (al-Maktabah Asy-Syamilah), pembinaan remaja masjid, koperasi, poliklinik, unit penggalian dana dan pendistribusiannya, konsultasi, bantuan hukum, bursa tenaga kerja, sekolah, kantor, warnet, atau bank syariat adalah pengembangan dari fungsi penting sistem manajemen masjid. Mari kita kembali ke masjid, semoga di dalamnya kita menemukan kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan yang hakiki yang selama ini kita dambakan. Juga menyelesaikan persoalan sosial diantara kita semua. Wallahu a’lam
sumber :www.hidayatullah.com
Friday, 13 November 2009 10:23
Di zaman Nabi, masjid memiliki multifungsi. Maka ketika hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi mengatasi problematika sosial
Oleh: Shalih Hasyim*
Hidayatullah.com--Seorang pakar islam kontemporer Syeikh Said Hawa pernah mengatakan; Inna ’ashrana hadza mamlu-un bi Asy Syahawati wa asy-Syubuhati wa Al Ghoflah (Sesungguhnya kurun kita ini diliputi oleh suasana yang mengundang nafsu syahwat, kerancuan terhadap kebenaran dan melalaikan kehidupan akhirat). Menurut beliau, benteng pertahanan terakhir ummat dalam memagari jati dirinya dari kontaminasi polusi zaman adalah keluarga dan masjid.
Kesederhanaan manajeman Nabi dalam mengelola masjid telihat antara lain sewaktu beliau shalat, usai shalat beliau selalu menghadap jamaah untuk mengecek barangkali ada sebagian jamaah yang berhalangan hadir. Pada suatu ketika salah seorang jamaah inti tidak hadir dalam shalat, beliau bertanya , Mana si Fulan ?. Salah seorang makmum menjawab, si Fulan sedang sakit. Kemudian beliau mengunjungi Fulan di rumahnya. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, sangat perhatian kepada jamaahnya. Perbuatan beliau sejatinya diteladani pengurus dan imam masjid.
Selesai shalat Jumat, dari atas mimbar Rasulullah Saw, selalu menanyakan jamaahnya, Siapakah yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan ? Apabila ada yang mengangkat tangannya (sebagai tanda jamaah itu sedang dalam kesulitan atau kekurangan), Nabi memintanya untuk menjelaskan kesulitan yang dihadapinya dan kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah diantara jamaah yang telah hadir diberi keluasan rizki oleh Allah ?”.
Begitulah cara Nabi. Sehingga yang mempunyai kelebihan dapat meringankan beban yang kesulitan. Jika cara ini diterapkan maka problematika kemiskinan ummat setiap minggu akan bisa dipecahkan. Betapa efektif masjid-masjid di tanah air yang jumlahnya ratusan ribu dalam mengantisipasi krisis ummat jika menerapkan manajemen sederhana Rasulullah saw, tersebut. Dan semestinya ummat islam yang merupakan bagian terbesar bangsa ini akan hidup sejahtera dan damai.
Kurang Multi Fungsi
Krisis multidimensional yang terjadi sekarang ini menyebabkan citra Indonesia di dalam negeri dan di mata dunia internasional semakin terpuruk. Bangsa Indonesia yang selama ini dikenal religius, memiliki budaya pemaaf, paternalistik, toleran (tepo sliro, Jawa), gotong royong menjadi kejam dan koruptor. Bangsa Indonesia jika menduduki posisi tertentu cenderung memperkaya diri, berfikir jangka pendek, kata Prof. Toshiko Komoshita, intlektual Jepang. Indonesia adalah sarang penyamun berdasi, lahan subur KKN mulai tingkat pejabat eksekutif pusat hingga jajaran birokrasi tingkat RT (hasil surve lembaga Non Government Organization dari Jerman, diterbitkan lewat majalah der Spiegel).
Stateman pakar asing dan hasil surve intitusi luar negeri yang tidak menguntungkan diatas tentu mengarah kepada ummat islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia. Untuk sementara penulis berkesimpulan, bahwa keterpurukan ummat disebabkan oleh beberapa point berikut;
Pertama : Ada kecenderungan ummat Islam tidak mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah secara murni dan konsekuen. Mereka sering tidak melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan penting. Baik menyangkut persoalan individu, keluarga dan masyarakat (QS. Thaha : 124).
Mengomentari ayat ini Ibnu Katsir berkata; “Barangsiapa yang berpaling dari ketetapan Allah dan atau sengaja melupakannya, akan menemui kehidupan yang serba sulit (ma’isyatan dhonkan), tidak merasakan ketenangan dan kelapangan dada disebabkan kesesatannya, sekalipun secara lahiriyah sejahtera, bisa berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuka hatinya. Tetapi jiwanya goncang, bingung dan diliputi keragu-raguan.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 479).
Kedua; Ummat Islam meyakini bahwa Rasulullah Saw sebagai figur sentral terbaik, tetapi mereka meneladaninya (ta-assi) hanya dalam mulut dan tidak diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari di tempat kerja, kantor, sekolah, pasar atau di tempat yang lain. Sekalipun secara serimonial, dan upacara peringatan maulid ummat islam melakukannya secara serempak dan gegap gempita, tetapi keagungan pribadi (syakhshiyyah) Rasulullah masih belum sepenuhnya di teladani. Kaya dalam upacara, tetapi miskin dalam aplikasi.
Untuk mengantisipasi kondisi diatas, ummat Islam memiliki tanggungjawab moral membantu negara keluar dari hal-hal paradoksal.
Lihatlah jumlah jamaah shalat lima waktu terutama shubuh, belum lagi dengan pakaian yang berwarna-warni, diperparah dengan shaf (barisan shalat) yang tidak rapi. Apalagi jika kita mencermati kualitas komunikasi yang dibangun antara jamaah usai menunaikan shalat, sungguh masih belum berjalan sesuai harapan. Dari sini bisa dievalusi betapa kualitas ummat dalam meneladani Rasulullah Saw ketika di masjid masih jauh ketinggalan.
Pada zaman Nabi Muhammad Saw, masjid memiliki multifungsi. Maka ketika beliau hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga menimba ilmu, tempat mempersaudarkan (ta-akhi) suku yang saling bermusuhan selama berabad-abad, tempat berbagi sesama, penggalian dana dan pendistribusiannya, tempat penggemblengan calon pemimpin (kawah condrodimuko), tempat bermusyawarah dan tempat mewujudkan kesejahteraan bersama.
Oleh karena itu tugas imam shalat tidak sekedar memimpin shalat jamaah, tetapi mendidik, mengayomi dan mengarahkan ummat dalam segala aspek kehidupannya. Maka, seorang imam dan jamaah inti adalah orang yang dapat dipercaya dan terbaik (level inti) dari ummat. Imam masjid dituntut memiliki kemampuan manajerial yang tinggi dan memiliki komitmen untuk mengurbankan tenaga dan waktunya untuk memakmurkan masjid. Dengan standar demikian, dia mampu melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya. (QS. at- Taubah (9) : 17).
Makmurkanlah Masjid-masjid
Memakmurkan masjid berarti membangun, memperkuat bangunannya dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak (secara material), dan memakmurkannya dalam aspek immaterial (moril), mendirikan shalat, berdzikir, mencari ilmu dan aktifitas ibadah lain yang merupakan tujuan utama didirikannya. (QS. an-Nur : 36), (Tafsir al-Ahkam, Ali Ash Shobuni II). Abu Bakar Al Jashshash mengatakan, memakmurkan masjid itu mengandung dua pengertian yaitu : Berkunjung dan berdiam di masjid. Membangun dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak. I’tamaro yang berarti ziarah, berkunjung. Misalnya kata ‘umrah, berarti ziarah ke Baitullah. (Ahkamul Quran, Al Jashshash, II : 87).
“Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya,” [HR. Thabrani].
“Barangsiapa yang mendirikan masjid karena Allah sekalipun sebesar sarang burung, maka Allah akan mendirikan sebuah rumah untuknya di surge.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah].
Secara jujur dan obyektif kita mengakui betapa masjid-masjid di tanah air mengalami kemandekan. Belum memainkan fungsi dan peranannya secara maksimal. Masjid tidak berdaya mengatasi problematika sosial kemasyarakatan. Orang meminta-minta di sekitar masjid, anak-anak jalanan, kenakalan remaja, belum bisa diantisipasi secara signifikan. Betapa keteladanan Rasulullah Saw, di masjid yang mempunyai kandungan manajeman tingkat tinggi, baru sebatas sebagai bahan diskusi, seminar dan forum-forum ilmiah. Salah satu fungsi masjid sebagai baitul mal, belum bisa diwujudkan, sehingga para pengemis di sekitarnya semakin meningkat jumlahnya. Sangat kontradiktif dengan bangunan phisik masjid yang megah, dengan pemandangan manusia yang berpakaian compang camping di sekelilingnya. Keindahan bangunannya tidak diimbangi dengan kesejahteraan dan kemakmuran jamaahnya.
Beberapa ormas Islam pernah mengusung “Gerakan back to masjid”. Hidayatullah beberapa pernah meluncurkan 1.000 dai di seluruh kabupaten dan propinsi di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah dan berbagai elemen bangsa, khususnya ummat Islam. Sebagai usaha mengentaskan krisis multidimensional yang menjerat bangsa. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) juga meluncurkan program dai-dai pasca-sarjana dan doctoral dan mengisi masjid-masjid.
Masjid yang akan ditangani oleh para dai di seluruh tanah air tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah shalat, tetapi sebagai pusat kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, informasi dunia Islam. Dengan demikian memakmurkan masjid memiliki fungsi yang sangat luas.
Pendirian Sekolah Terpadu, TPA/TPQ, perpustakaan multi media (al-Maktabah Asy-Syamilah), pembinaan remaja masjid, koperasi, poliklinik, unit penggalian dana dan pendistribusiannya, konsultasi, bantuan hukum, bursa tenaga kerja, sekolah, kantor, warnet, atau bank syariat adalah pengembangan dari fungsi penting sistem manajemen masjid. Mari kita kembali ke masjid, semoga di dalamnya kita menemukan kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan yang hakiki yang selama ini kita dambakan. Juga menyelesaikan persoalan sosial diantara kita semua. Wallahu a’lam
Rabu, 21 April 2010
Buku...
Sudah lama tidak memposting tulisan...
Akhir-akhir ini saya sering jalan-jalan ke toko buku Gunung Agung..dan Wali Songo..
karena memang tempat kos berdekatan dengan kedua tempat tersebut...
Melihat banyaknya buku disana...rasanya apa yang pernah kita baca...jauh lebih sedikit..banyak sekali sebetulnya yang harus kita pelajari terkait dengan agama islam..
Baru baca...belum berapa banyak yang dihapal dan kita amalkan...
Mmm..
ini nih buku-buku yang dua minggu kemarin menarik minat saya:
1. Api Sejarah 2 karangan Ahmad Mansyur Suryanegara
2. Fiqih Sirah karangan Sayd Ramadhan Al Buty
3. Huru-hara hari kiamat by Ibnu Katsir
4. Sirah Ibnu Hisyam..
5. Tafsir Qur'an..
Akhir-akhir ini saya sering jalan-jalan ke toko buku Gunung Agung..dan Wali Songo..
karena memang tempat kos berdekatan dengan kedua tempat tersebut...
Melihat banyaknya buku disana...rasanya apa yang pernah kita baca...jauh lebih sedikit..banyak sekali sebetulnya yang harus kita pelajari terkait dengan agama islam..
Baru baca...belum berapa banyak yang dihapal dan kita amalkan...
Mmm..
ini nih buku-buku yang dua minggu kemarin menarik minat saya:
1. Api Sejarah 2 karangan Ahmad Mansyur Suryanegara
2. Fiqih Sirah karangan Sayd Ramadhan Al Buty
3. Huru-hara hari kiamat by Ibnu Katsir
4. Sirah Ibnu Hisyam..
5. Tafsir Qur'an..
Sabtu, 27 Februari 2010
Maulid Nabi SAW...(2)
Menyambung tulisan sebelumnya...
Tapi satu hal yang harus kita ingat tentang Maulid Nabi adalah esensi utamanya, yaitu mengingat kembali kehidupan Rasulullah untuk membangkitkan semangat mempelajari Islam dan semangat berjihad...
Alhamdulillah di Masjid At-Taqwa Parakan MAs..
setiap bulan pada minggu 1 sampai ke 3 diadakan Kajian Sirah Nabawiyah...ini lah cara kami merayakan Maulid...dengan mengenail sedetail-detailnya Nabi Muhammad SAW...
Tapi satu hal yang harus kita ingat tentang Maulid Nabi adalah esensi utamanya, yaitu mengingat kembali kehidupan Rasulullah untuk membangkitkan semangat mempelajari Islam dan semangat berjihad...
Alhamdulillah di Masjid At-Taqwa Parakan MAs..
setiap bulan pada minggu 1 sampai ke 3 diadakan Kajian Sirah Nabawiyah...ini lah cara kami merayakan Maulid...dengan mengenail sedetail-detailnya Nabi Muhammad SAW...
Maulid Nabi SAW..
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dan penganut islam yang beberapa mazhab..peringatan maulid Nabi SAW sering kali menjadi perdebatan...ada yang melakukan dan ada yang membid'ahkan atau mengharamkan...
..
Pada saat khotbah Jumat 26feb ini , khatib menjelaskan secara gamblang mengenai ulama-ulama mana yang melarang maulid dan Ulama-ulama mana saja yang tidak melarang..hanya karena ustadz yang menjadi khatib sepertinya tidak melarang peringatan maulid ..maka uraiannya tentu saja membeberkan fakta-fakta dan dasar-dasar yang mendukung diperbolehkannya peringatan Maulid Nabi SAW.
Malamnya...ada pengajian ..masih di mesjid yang sama..membahas maulid sedikit...yang ini rupanya tidak memperingati Maulid...bahkan salah seorang jamaah dengan keras berkata..kalau sudah tahu peringatan Maulid tidak dicontohkan oleh Nabi SAW..kenapa kita masih merayakannya...keras dan kasar memang pernyatannya..hanya sayangnya yang bersangkutan..mengajipun masih salah-salah...hmmm...
Sebenarnya dua atau tiga bulani yang lalu..Ust. Yusuf Burhanuddin pernah dengan baik menjelaskan perkara Maulid...beliau menyampaikan..bahwa perkara maulid ini memang ada yang memandangnya sebagai Fikih Ibadah dan ada yang memandangnya sebagai Fikih Muamalah..
Kalau dipandang sebagai Ibadah sudah barang tentu akan menjadi terlarang..karena pada dasarnya semua Ibadah itu terlarang kecuali jika dicontohkan...
Sedangkan kalau dipandang sebagai muamalah sudah barang tentu hukumnya boleh ...karena semau muamalah itu mubah kecuali yang dilarang...Beliau sendiri mengatakan bahwa beliau tanpa mengurangi rasa hormat pada yang merayakan..memilih untuk lebih berhati-hati dengan tidak merayakannya....
Saya sendiri..memandangnya masih dalam fikih Muamalah..artinya bagi saya mau merayakan atau tidak yang lebih penting adalah menjalankan apa yang diajarkan oleh Rasul SAW..kalau diajak merayakan saya ikut tapi kalau kebetulan tidak bisa merayakan tidak menjadi masalah buat saya...
Yang bermasalah buat saya: "ketika yang tidak merayakan merasa lebih baik dari yang merayakan atau yang merayakan merasa lebih baik dari yang tidak..kemudian salah satu saling cela..dan ahirnya silaturahmi terputus....
..
Pada saat khotbah Jumat 26feb ini , khatib menjelaskan secara gamblang mengenai ulama-ulama mana yang melarang maulid dan Ulama-ulama mana saja yang tidak melarang..hanya karena ustadz yang menjadi khatib sepertinya tidak melarang peringatan maulid ..maka uraiannya tentu saja membeberkan fakta-fakta dan dasar-dasar yang mendukung diperbolehkannya peringatan Maulid Nabi SAW.
Malamnya...ada pengajian ..masih di mesjid yang sama..membahas maulid sedikit...yang ini rupanya tidak memperingati Maulid...bahkan salah seorang jamaah dengan keras berkata..kalau sudah tahu peringatan Maulid tidak dicontohkan oleh Nabi SAW..kenapa kita masih merayakannya...keras dan kasar memang pernyatannya..hanya sayangnya yang bersangkutan..mengajipun masih salah-salah...hmmm...
Sebenarnya dua atau tiga bulani yang lalu..Ust. Yusuf Burhanuddin pernah dengan baik menjelaskan perkara Maulid...beliau menyampaikan..bahwa perkara maulid ini memang ada yang memandangnya sebagai Fikih Ibadah dan ada yang memandangnya sebagai Fikih Muamalah..
Kalau dipandang sebagai Ibadah sudah barang tentu akan menjadi terlarang..karena pada dasarnya semua Ibadah itu terlarang kecuali jika dicontohkan...
Sedangkan kalau dipandang sebagai muamalah sudah barang tentu hukumnya boleh ...karena semau muamalah itu mubah kecuali yang dilarang...Beliau sendiri mengatakan bahwa beliau tanpa mengurangi rasa hormat pada yang merayakan..memilih untuk lebih berhati-hati dengan tidak merayakannya....
Saya sendiri..memandangnya masih dalam fikih Muamalah..artinya bagi saya mau merayakan atau tidak yang lebih penting adalah menjalankan apa yang diajarkan oleh Rasul SAW..kalau diajak merayakan saya ikut tapi kalau kebetulan tidak bisa merayakan tidak menjadi masalah buat saya...
Yang bermasalah buat saya: "ketika yang tidak merayakan merasa lebih baik dari yang merayakan atau yang merayakan merasa lebih baik dari yang tidak..kemudian salah satu saling cela..dan ahirnya silaturahmi terputus....
Kamis, 25 Februari 2010
Beda Sedikit
Seperti biasa setiap hari kamis bada shalat Dhuhur di mesjid al Araf dilaksanakan kajian belajar membaca Al Qur'an . Tidak seperti biasanya pada minggu kemarin sang ustadz menyampaikan Kultim (kuliah tiga menit)..kira-kira sebagian yang disampaikan adalah...
"ternyata beda kita ..umat islam saat ini dengan Rasulullah SAW : sedikit...!"
Semua jamaah bingung saat itu maksudnya apa tho..masa berlumur dosa begini..sholat masih ngga khusuk begini..puasa sunat ngga pernah..dibilangnya beda sedikit..
Ustad melanjutkan:
" Kalau Rasul sedikit makan...maka kita sedikit-sedikit makan....
Bila Rasul Sedikit tidur ...maka kita umatnya saat ini sedikit-sedikit tidur...
Kalau Rasul sedikit marah...maka kita sedikit sedikit marah....
jadi bener khan ...bedanya cuma sedikit..."
"ternyata beda kita ..umat islam saat ini dengan Rasulullah SAW : sedikit...!"
Semua jamaah bingung saat itu maksudnya apa tho..masa berlumur dosa begini..sholat masih ngga khusuk begini..puasa sunat ngga pernah..dibilangnya beda sedikit..
Ustad melanjutkan:
" Kalau Rasul sedikit makan...maka kita sedikit-sedikit makan....
Bila Rasul Sedikit tidur ...maka kita umatnya saat ini sedikit-sedikit tidur...
Kalau Rasul sedikit marah...maka kita sedikit sedikit marah....
jadi bener khan ...bedanya cuma sedikit..."
Dua Pemimpin ..Dua Zaman
Sewaktu umar bin abdul aziz diangkat menjadi Khalifah banyak hal yang mengejutkan yang beliau lakukan. Kejutan- kejutan yang membawa kemaslahatan tentunya. Sehingga tidak heran bahwa dalam jangka waktu yang realtif singkat (2 tahun) beliau bisa memberantas kemiskinan di negrinya..
Pada hari pengangkatanya sebagai khalifah, para bawahannya membawakan kendaraan istana yang sangat mewah..beliau mengembalikannya ke Baitul Mal dan memilih menggunakan tunggangan pribadinya..bukan hanya itu belum menyumbangkan hartanya ke baitul Mal....
Seorang mentrinya diminta untuk membelikan baju seharga 6 dirham, sang mentri membelikannya kemudian beliau mengenakannya dan berkomentar, " alangkah halusnya pakaian ini wahai mentri."
Sang mentri menangis, sehingga Umar menanyakan apa sebabnya sang mentri menangis. Sang Mentri menjawab bahwa dia menangis karena teringat ketika Umar belum menjadi khalifah , beliau membali baju seharga 600 dirham dan mengomentari bahwa baju yang digunakan masih agak kasar..sedangkan setelah menjadi khalifah baju seharga 6 dirham dikatakan sangat halus...
itulah umar bin abdul aziz..seorang khalifah ....
Sementara itu di sebuah negri yang lain dan di zaman yang berbeda (jauh setelah zamannya Umar) , sang pemimpin menyatakan bahwa kendaraan para mentrinya perlu diganti...dengan yang harganya 1 milliar .....hal ini diamini mentrinya karena ini sudah anggarkan tidak masalah...untuk sang pemimpin sendiri apa? yaa..tentunya harus lebih dari 1 M dong :-)...atau lebih dari mobil?
Gaji para mentri dinaikan ...hmmm...zaman Umar? tentu saja bukan itu yang pertama dilakukan....
Umar bin Abdul Aziz tidak hidup di zaman dongeng demikian pula pemimpin beda zaman di atas....dari hasil kepemimpinan pun jelas akan berbeda...
dalam 2 tahun zaman umar seperti apa...
Zaman sang pemimpin ???
Pada hari pengangkatanya sebagai khalifah, para bawahannya membawakan kendaraan istana yang sangat mewah..beliau mengembalikannya ke Baitul Mal dan memilih menggunakan tunggangan pribadinya..bukan hanya itu belum menyumbangkan hartanya ke baitul Mal....
Seorang mentrinya diminta untuk membelikan baju seharga 6 dirham, sang mentri membelikannya kemudian beliau mengenakannya dan berkomentar, " alangkah halusnya pakaian ini wahai mentri."
Sang mentri menangis, sehingga Umar menanyakan apa sebabnya sang mentri menangis. Sang Mentri menjawab bahwa dia menangis karena teringat ketika Umar belum menjadi khalifah , beliau membali baju seharga 600 dirham dan mengomentari bahwa baju yang digunakan masih agak kasar..sedangkan setelah menjadi khalifah baju seharga 6 dirham dikatakan sangat halus...
itulah umar bin abdul aziz..seorang khalifah ....
Sementara itu di sebuah negri yang lain dan di zaman yang berbeda (jauh setelah zamannya Umar) , sang pemimpin menyatakan bahwa kendaraan para mentrinya perlu diganti...dengan yang harganya 1 milliar .....hal ini diamini mentrinya karena ini sudah anggarkan tidak masalah...untuk sang pemimpin sendiri apa? yaa..tentunya harus lebih dari 1 M dong :-)...atau lebih dari mobil?
Gaji para mentri dinaikan ...hmmm...zaman Umar? tentu saja bukan itu yang pertama dilakukan....
Umar bin Abdul Aziz tidak hidup di zaman dongeng demikian pula pemimpin beda zaman di atas....dari hasil kepemimpinan pun jelas akan berbeda...
dalam 2 tahun zaman umar seperti apa...
Zaman sang pemimpin ???
Senin, 25 Januari 2010
DIJUAL RUMAH SEGERA!!!
Di Jual RUmah Segera
LT : +/- 400 m2 (lebar muka :+/- 8m, panjang =+/- 50 m)
LB : +/- 200 m2
Kamar : 3 x 5 = 2 kamar, 3X4 = 1 kamar, 3x3 =1 kamar , 3 x 2.75 = 1 kamar
Kamar Mandi
Fas: PLN,PDAM
Harga Penawaran : Rp. 3 M (nego )
Lokasi : Jalan Kiaracondong 107 Bandung
Hub: 022-76123133 atau 081320501120
LT : +/- 400 m2 (lebar muka :+/- 8m, panjang =+/- 50 m)
LB : +/- 200 m2
Kamar : 3 x 5 = 2 kamar, 3X4 = 1 kamar, 3x3 =1 kamar , 3 x 2.75 = 1 kamar
Kamar Mandi
Fas: PLN,PDAM
Harga Penawaran : Rp. 3 M (nego )
Lokasi : Jalan Kiaracondong 107 Bandung
Hub: 022-76123133 atau 081320501120
Label:
Bandung,
Jual,
Jual Rumah,
Kiaracondong,
Rumah
Minggu, 10 Januari 2010
Hijrah....
Hijrah..dapat diartikan juga perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain..atau dapat juga hijrah dari keburukan ke arah kebaikan..
Buat saya ada hijrah yang sangat ingin sekali saya lakukan saat ini. Yaitu, Hijrah dalam masalah ekonomi dari Riba menjadi muamalah atau jual beli yang syariah..
Tekad saya:
1. Karena masih ada sekitar 18 kali/bulan cicilan kartu kredit citibank.
2. Masih ada cicilan KPR yang menggunakan system konvensional selama 6 tahun lagi..
3. Mudah2an kedua hal diatas bisa saya tinggalkan dalam waktu selambat-lambatnya pertengahan 2011 atau lebih cepat dari itu...Insya Allah
Buat saya ada hijrah yang sangat ingin sekali saya lakukan saat ini. Yaitu, Hijrah dalam masalah ekonomi dari Riba menjadi muamalah atau jual beli yang syariah..
Tekad saya:
1. Karena masih ada sekitar 18 kali/bulan cicilan kartu kredit citibank.
2. Masih ada cicilan KPR yang menggunakan system konvensional selama 6 tahun lagi..
3. Mudah2an kedua hal diatas bisa saya tinggalkan dalam waktu selambat-lambatnya pertengahan 2011 atau lebih cepat dari itu...Insya Allah
Langganan:
Komentar (Atom)